Apanya Yang Istimewa?

Lihatlah Awan Hitam disana.

Rasakan sensasinya,..

Lembut, getir, indah, menyeramkan.

Lihatlah..

Awan Hitam mencuri hati  di hujan yang sunyi

Dan tengoklah diriku.’

Terbelenggu menunggu cahaya terang sudahi suram..

sambil terus mengumpat, mencaci maki keadaan.

Yah, apalah artinya istimewa kalau tak sedikitpun meninggalkan makna..

Mataku jadi jalang, tidakkah matamu juga?

Tak Lelahkah memandangi mitos yang usang?

Serak bersorak terus berteriak.

Masihkah terdengar di telinga-telinga yang tuli?

Menertawakan sisa sisa Legenda renta yang masih diyakini.

Atau meracau tentang Manunggaling Kawulo Gusti..

Ahh.. Kotaku, akankah kau mati dengan cara setragis itu?

Iklan

Dua Keping Receh Diatas Kertas

Oh tidak, jangan terjadi dulu.

Jejak langkah yang dulu terlihat dengan jelas mulai menjadi samar.

seolah dulu akan menjadi selamanya

bahwa idealisme akan tetap menyala.

Terang tak mempan dimakan jaman

Namun sekarang jaman telah berubah.

Yang tak tau hukumnya dunia akan digilas oleh sejarah.

Habis tertepikan.

menjadi residu ketika perputaran gaya sentripetal membentuk sebuah inti baru.

Kepercayaan yang besar tidak dibayar dengan komitmen

Dan akhirnya semua terjadi seperti di rimba belantara.

Memakan atau dimakan.

Jaman dimana orang – orang pilhan akan muncul dan menjemput kesucian

Berganti dengan perburuan mesin-mesin tak berjiwa.

Lihatlah Intelektual organik beranjak menuju kemitosannya.

Menyisakan kebingungan dan kebutaan akan realita.

 Dibungkus semakin indah dan menusuk.

Menusuk.. namun kita tetap mengangguk.

melawan kadang mati konyol.. mendiamkan adalah mengingkari kata hati.

Menimbulkan kegilaan massal yang pada akhirnya dimaklumi kemudian menjadi normal.

apa lagi yang bisa dilakukan

sementara begawan-begawan dan resi-resi menjadi mandul.

Tak lagi menghasilkan ksatria baik hati tapi justru perampok dan pemeras.

Masih percaya dengan keampuhan struktur tunggal? Atau berharap turun sinterklas?

Lihat saja seberapa banyak itu telah dimanipulasi dan sulit untuk di kembalikan kecuali dengan pertumpahan darah yang ekstrim.

 

Sekarang coba kau pilih

menjadi puncak bendera yang dihantam angin puting beliung.

Atau menjadi rumput yang berguna bagi ternak.

Mana yang bisa dipercaya di saat yang gila ini?

Ataukah memang kau harus berhenti mempercayai?

Termasuk kepada pikiranmu sendiri.

Hujan Di Latar Hijau

Kesederhanaan adalah sebuah jalan.

Jalan yang tidak tau akan berujung apa.

Baikkah? Atau lainkah?

Itu juga hanya tutur kata yang banyak orang berkata demikian

Menjadi bijaksana lagi.. atau hanya pura-pura pandai.

Banyak dari mereka kelaparan.

Dan sebagian lagi kekenyangan hingga tak tau lagi bagaimana rasanya makanan yang enak..

Toh dunia tetap berputar.

Sejarah tetap berjalan.

Sebagaimana mestinya jalanan halus ataupun terjal dilalui..

 Kearah manakah kita mesti memikirkan?

 Tujuan itu adalah titik dimana proyeksi kita menjadi sebuah garis akhir.

 Yang tentunya nanti akan menjadi sebuah awal yang baru.

Berjalan lagi dan sesaat tentu berhenti untuk mengukur berapa jarak yang telah ditempuh…

Untuk apa semua itu?

Ya.. ketika titik nadir itu berubah menjadi frustasi berkepanjangan.

Sangat sulit untuk membedakan

Antara harapan, kenyataan kegagalan dan sesuatu yang tertunda.

Tidak atau belum mejadi sesuatu yang terkadang rancu.

Sangat berbeda dalam esensi.. namun sangat mudah untuk dianggap sama.

Dan orang akan menganggapnya wajar. toh manusia pasti bersalah.

Kesempurnaan itu hanya bayangan yang bahkan terkadang hilang saat cahaya itu hilang.

Esensi atau eksistensi adalah sebatas pengertian saja.

Pada dasarnya nafsu dan ambisilah yang dominan.

Menjadi sesuatu yang kosong. ruang hampa, tanpa sakit, tanpa bahagia.

Tanpa sensasi panca indera, dan tanpa sensasi perasaan. 

Mampang Prapatan. 10 Maret 2011. (23.46 WIB)

Siang itu seusai shalat dzuhur di musholla kantorku yang terletak di lantai 11. Dari jendela kaca aku melihat ke bawah. Ada sebuah ruas jalan 4 jalur dengan jalan tol di tengahnya. Semula hanya iseng saja sampai kutemui sebuah pemandangan yang menurutku ganjil dan belum pernah kulihat ketika aku masih tinggal di desa. Seorang lelaki menyapu jalan tol di bawah terik matahari. Mungkin dengan cara itulah dia mencari penghasilan untuk menyambung hidup.

Pikiraanku mulai tergelitik. Sebegitu kuatkah lelaki itu hingga memilih bekerja menyapu jalan tol yang panjang dan panas itu? Begitu beraninya dia melawan resiko tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi. Adakah asuransi untuknya? Berapa ganjinya? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku. Menggodaku untuk berimajinasi lebih jauh. Namun iimajinasi itu segera berakhir ketika aku sadar bahwa banyak pekerjaan yang mesti aku selesaikan sehingga aku mesti beranjak kembali menatap layar komputer di meja kerjaku.

Dan hari cepat berlalu ketika aku sadar sore waktu jam kantor telah usai. Teman-temanku segera pulang. Seperti biasa, aku memilih untuk nongkrong dulu di Lobi sambil menikmati rokok. Ruang kerja ber AC membatasi intensitasku menghisap asap tembakau itu. Memang kebiasaanku untuk tidak langsung pulang. Aku lebih suka pulang malam ketika kemacetan telah berkurang sehingga konsumsi BBM motorku tidak membuat isi dompetku terkuras. Apalagi ada isu bahwa harga BBM akan segera naik. Tentu aku akan pusing karena motorku selalu minta BBM agar dia mau berjalan.

Sore itu basah dan masih menyisakan gerimis setelah dihuyur hujan sekitar 2 jam. Aku senang dengan gerimis karena udara Jakarta menjadi tidak terlalu panas. Seketika ingatanku kembali kepada lelaki penyapu jalan tol siang tadi. Aapakah dia kehujanan? Sepenglihatanku dia tidak membawa payung. Apakah dia mendapat tempat berteduh? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengusikku. Membuatku gelisah. Aku putuskan untuk menyulut batang rokok terakhirku untuk mengurangi gelisah itu.  Ketika rokok itu habis, aku segera beranjak ke parkiran. Aku ingin segera pulang ke kost. Sebuah ruang kotak sempit yang menjadi tempat berteduhku di kota ini.

Hari sudah gelap ketika aku keluar dari kompleks kantor menuju ruas “jalan tikus” favoritku dalam menghindari jalan utama yang tentunya macet parah. Jalan-jalan sempit itu memberiku “diskon waktu” untuk bisa lebih cepat sampai dan lebih irit BBM. Dan jalan sempit itu memberiku pemandangan akan keras dan kumuhnya hidup di kota yang mendapat predikat metropolitan ini.

Kudengar adzan isya mulai berkumandang. Rupanya sudah malam. Sebelum memasuki kampung tempat kostku, aku teringat bahwa rokokku habis. Tentu sangat membosankan di kost tanpa rokok. Harus mencari stok batang tembakau untuk menyambung nafas dan menemani insomnia malam ini. Kebetulan ada sebuah lapak kecil yang kulewati tampak berjualan rokok. Lapak itu basah terguyur hujan siang tadi, dan sampai saat inipun masih gerimis kecil. Aku turun dari motor dan aku lihat seorang nenek tua tidur di dalam lapak itu. Dia menunggui dagangannya, dan aku mesti menganggu tidur nyenyaknya untuk mendapatkan rokok.

Di kamar kost aku menatap langit-langit sambil teringat si lelaki penyapu jalan tol dan si nenek tua penjual rokok di lapak kecil yang basah itu. Sedang apa mereka malam ini?? Termangu dan gelisah tanpa tau apa yang bisa aku perbuat…   

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can always preview any post or edit it before you share it to the world.