Kreasi Seni dal…

Kreasi Seni dalam Gempuran Alam Industri*

Oleh: Pandu Yuhsina Adaba

 

Kawan saya, seseorang yang mengidentifikasi diri sebagai seorang seniman musik, termasuk orang yang rajin mengkritisi perkembangan dunia musik baik di level nasional atau internasional. Melalui akun jejaring sosial di dunia maya seperti facebook dan twitter, dia menuangkan pandangannya tentang musik. Mulai dari merekomendasi karya yang menurut dia baik, sampai mencaci maki karya yang menurut dia buruk. Tidak ketinggalan dia selalu berusaha mendatangi perhelatan-perhelatan musik baik indie label maupun mayor label.

Suatu ketika, saya heran ketika dalam ceramahnya di dunia maya, dia mulai menyinggung tentang penghargaan untuk seniman dalam bentuk nominal uang. Baginya wajar seorang musisi menjual produknya dan kemudian menjadi kaya. Justru ketika seorang musisi miskin, dia tidak dapat berkonsentrasi membuat karya-karya yang bermutu. Pada suatu titik, dia meyakini bahwa komodifikasi karya seni dalam sebuah industri hiburan (dalam konteks ini industri musik) adalah koskuensi logis bagi seorang seniman untuk dapat dikenal dan bertahan hidup.

Ernesto Che Guevara mungkin tidak menyangka bahwa Fotonya akan menjadi sebuah ikon favorit anak muda sepeninggalnya. Pejuang revolusioner Kuba itu mendedikasikan hidupnya untuk melakukan perlawanan terhadap hegemoni kapitalisme. Sejarah mencatat bahwa dia harus membayar perjuangannya itu dengan nyawa. Kini setelah beberapa puluh tahun sejak kematiannya, gambar wajahnya menghiasi pernak pernik asesoris yang beredar luas di pasaran. Stiker, gantungan Kunci, poster, kaos, dan berbagai benda lain bergambar wajah sang pejuang ltu laku keras di pasaran.

Kapitalisme memang lekat dengan komodifikasi. Dia bisa mengkomodifikasi apapun asal menguntungkan. Dalam titik tertentu, dia bahkan tak segan untuk mengkomodifikasi hal-hal yang bersifat perlawanan terhadap dirinya sendiri. Ketika Kaos bergambar Che Guevara telah menjadi fashion style yang populer, bukan berarti nilai-nilai perjuangan Che juga populer. Satu hal yang pasti adalah bahwa penjualan kaos Che Guevara akan mendapat omset besar, dan itu tidak berhubungan dengan transfer pemikiran Che.  Gambar Che dalam konteks ini telah berubah menjadi barang dagangan. Mungkin akan semakin tragis bagi Che ketika Foto dalam setiap pernak-pernik itu lisensinya telah dimiliki oleh sebuah perusahaan. Perjuangannya berakhir antiklimaks, dan fotonya justru menjadi ikon budaya pop.

Asesoris Che Guevara hanyalah satu contoh dari komodifikasi terhadap “lawan” kapitalisme. Dalam Pidato pengukuhannya sebagai Guru Besar UGM, Nasikun bercerita tentang Mas Tulus, seorang seniman pemahat kayu di Jepara. Bagi Mas Tulus, Ukirannya adalah karya tak ternilai, sebuah produk olah rasa dimana dia mencurahkan segenap energi kreatif dan kemampuan estetika di dalamnya. Sebuah karya adalah curahan perasaan dan kemampuan. Ketika karya yang dihasilkan bagus, kepuasan batin didapat (Nasikun 2007). Itulah alam pikir Mas Tulus. Dia kadang tidak sampai hati untuk menghargai karyanya dalam nominal rupiah. Tapi tidak semua orang bisa memahami alam pikiran Mas Tulus. Jika seorang pengusaha furniture melihat karya keren Mas Tulus, mau tak mau nilai-nilai estetika mesti berubah menjadi nilai rupiah yang bisa diukur berapa margin yang bisa dimaksimalkan sebagai keuntungan dari penjualannya. Itulah Industri seni. Layaknya industri yang mampu menembus apapun kemudian mengkomodifikasikan apapun, mencaploknya dan memasukannya ke dalam rantai makanan mekanisme pertukaran barang dan jasa.

Seorang seniman kadangkala mempunyai pengaruh yang jauh melebihi seorang politisi. Acara-acara kampanye terbuka caleg dalam PILEG atau calon Kepala daerah dalam pilkada perlu mendatangkan massa pendukung dalam jumlah besar. Mobililisasi massa itu dilakukan dengan memberikan uang transport kepada peserta kampanye dengan jumlah bervariasi. Pendek kata, massa dimobilisir dengan uang. Sebaliknya, konser-konser musik band terkenal dipadati oleh penggemar fanatik yang rela antri untuk membeli tiket. Itulah hebantya seorang seniman, tanpa “uang transport” mereka mampu mengumpulkan massa, bahkan massa yang rela membayar. Lalu kenapa dari mereka sulit muncul transformasi sosial atau bahkan revolusi?

Orang mungkin akan berkata naif, namun saya termasuk penganut paham nyeleneh. Bahwa antara industri dan seni haruslah ada akal sehat yang memberi sekat antara keduanya, setidaknya sekat dalam pikiran. Kiranya lebih mudah untuk menjadi “pekerja industri seni” daripada menjadi seniman dalam arti sebenarnya. Masalahnya adalah: awam seringkali mencampuradukkan antara “pekerja industri seni” dengan “seniman.

(*mungkin bukan judul yang cocok tapi biarlah)

Iklan

Follow Your Idol

Dalam sebuah diskusi masalah kepemudaan yang diselenggarakan Kemenpora bekerjasama dengan LIPI saya berkata “Bagaimana mungkin kita berharap akan  muncul generasi muda yang bermental pejuang tangguh dari anak-anak muda yang visualisasi pria/wanita ideal adalah Smash dan 7icons?”. Bukan bermaksud mendiskreditkan Smash ataupun 7icons. Saya hanya sedang berpikir bahwa generasi muda masa kini telah kehilangan sosok ideal untuk diidolakan. Sosok idola kini diciptakan melalui logika Industri yang orientasinya adalah mencari keuntungan finasial. Bukan lagi sosok-sosok transformatif yang mampu mendinamisasikan kehidupan bermasyarakat. Bukan lagi sosok yang berjuang mengangkat derajat hidup rakyat.

Saya pernah bertanya kepada beberapa kawan muda tentang sosok seperti apa yang mereka idolakan. Kebanyakan menyebutkan indikator-indikator “bentuk fisik”. Sungguh aneh, artinya menjadi berarti atau tidaknya seseorang bagi seseorang yang lain bergeser sedemikian rupa menjadi sebatas “bawaan lahir” yang sulit diubah kecuali dengan operasi plastik. Maka jangan heran ketika orang berlomba-lomba mempercantik atau mempertampan diri agar mirip dengan sosok yang diidolakan.  Tidaklah sepenuhnya salah melakukan perawatan terhadap tubuh, namun ketika itu telah menjadi obsesi berlebihan, tertutuplah sudah akal sehat kita.

Seorang kawan karib bernama Wahid Hasyim, Mahasiswa Filsafat UGM mengutip Barconi serta Habermas menuturkan: Peran media dalam membentuk berhala-berhala yang dipuja-puja orang sungguh besar. Dalam titik ekstrimya, kehadiran sebuah idola adalah penanda bahwa suatu masyarakat mengalami kemandegan.  Hal itu memperlihatkan kebodohan perilaku individu-individu dalam masyarakat itu. Kenapa? Karena itu memperlihatkan betapa jauhnya jarak antara harapan yang ada pada sosok idola dengan dengan kenyataan pada diri masyarakat yang mengidolakan. Pada beberapa poin saya setuju dengan pandangan Wahid. Namun saya juga berpendapat bahwa kehadiran sosok idola yang ideal sebagai strategi transfer ide-ide transformatis itu sangat perlu.

Sedikit melebar namun bahasan perlu saya kaitkan dengan konsep Antonio Gramsci tentang peran signifikan “intelektual organik” dalam mendorong perubahan sosial. Sosok intelektual organik yang menjadi idola akan sangat efektif menyuarakan ide-ide revolusioner yang akan memantik pula diskursus di tingkatan rakyat bawah yang mengidolakannya. Maka ketika si Intelektual organik dalam posisi “Ing Ngarso sung Tulodho”, perkataan serta tindakannya akan lebih :digugu lan ditiru” oleh massa. Fenomena Jokowi, Walikota Solo yang terkenal itu, bisa menjadi pelajaran bagi kita. Seorang walikota yang punya ide-ide bagus, dalam posisi diidolakan rakyatnya, perkataan dan perbuatannya menjadi inspirasi banyak orang. Mungkin skema menjadi idola untuk kemudian mendorong perubahan sosial ke arah yang lebih baik bisa dicoba. Ok, Selamat mencoba!!

– Pandu Yuhsina Adaba –