Catatan Perjalanan ke Desa Terawan (1)

Image

Desa Terawan. Nama desa ini awalnya membuat saya agak ngeri ketika mesti ditugaskan kesana. Bagaimana tidak? Ter – Rawan, artinya dalam otak saya adalah “paling rawan”. Belum lagi asusmsi awal saya mengenai pedalaman Kalimantan yang saya pikir isinya adalah hutan tropis dan suku dayak yang kemana-mana menenteng mandau, serta masih punya kultur mengayau. Maka ketika kantor memutuskan mengirim saya kesana, saya awalnya agak ragu-ragu apakah saya mesti minta pindah atau tetap saya terima. Pada akhirnya, hanya berbekal ketetapan hati, saya memilih untuk tetap berangkat ke Terawan. Entah karena alasan apa, yang jelas ada semacam panggilan hati yang kuat untuk bertandang ke desa itu.

Menurut data awal yang saya terima dari kantor, Desa terawan ini termasuk dalam wilayah administratif kecamatan Danau Sembuluh, yang masuk wilayah Kabupaten Seruyan, kabupaten hasil pemekaran yang belum lama berdiri. Berdasarkan peta hasil download di internet, saya lihat lokasinya berada di tengah-tengah antara Pangkalan Bun dan Sampit. Itu membuat saya sulit mengambil keputusan, apakah saya mesti masuk lewat Pangkalan Bun, ataukah Sampit. Pada akhirnya, jadwal penerbanganlah yang memaksa saya mesti lewat Pangkalan Bun.

Dari Pangkalan Bun, kita mesti menggunakan travel  jurusan sampit untuk bisa mencapai Simpang Bangkal. Dan dari simpang Bangkal itulah kita bisa menggunakan travel (atau lebih tepatnya mobil carteran) menuju Terawan, setidaknya begitulah informasi yang saya dapatkan dari seorang kawan.Tuhan sepertinya sedang ingin memberikan perjalanan mengasyikan kepada saya. Begitu mendarap di Pangkalan Bun, saya tidak mendapati angkutan yang dapat membawa saya dari bandara menuju kota untuk mencari travel. Setelah sempat ngobrol dengan seorang kenalan yang baru saja saya kenal di pesawat, kami lalu memutuskan untuk menelpon agen travel agar menjemput kami di bandara. Belum sempat telpon, rupanya di depan ada mobil pickup yang mengarah ke kota. Kami minta ijin untuk menumpang di bak belakang. Dengan senang hati, sang pengemudi memberikan tumpangan.

Begitu sampai di Kota Pangkalan Bun, kami naik travel jurusan sampit. Estimasi waktu perjalanan dari Pangkalan Bun hingga sampit kira-kira 5 s/d 6 jam. Namun berhubung kami hanya menumpang sampai Simpang Bangkal, 3 jam kami sudah turun. Celakanya adalah, travel terakhir yang ke Terawan sudah berangkat dan hari sudah mulai gelap. Saya mulai agak cemas melihat kondisi daerahnya karena sangat sepi, dan di sekitarnya tidak nampak ada penginapan. Kami lalu mmemutuskan untuk istirahat dulu di sebuah warung makan pinggir jalan. Saya bertanya kepada pemilik warung tentang info penginapan di sekitar Bangkal. Ternyata memang tidak ada. Ah repot juga nih pikirku. Tak disangka, orang di sebelah saya rupanya punya banyak koneksi dengan sopir-sopir travel di sekitar wilayah itu, dia menawarkan kawannya yang bersedia mengantar kami ke Terawan malam itu juga. Setelah sepakat dengan harganya, kami segera berangkat ke Terawan.

Dari Simpang Bangkal, untuk menuju ke Terawan, kita harus melewati kompleks perkebunan sawit yang sangat luas. Orang menyebutnya dengan Blok 75. Sebenarnya itu adalah sebutan untuk gerbang Blok 75 dari perkebunan Sawit Milik PT Agro Indomas. Dari sopir kami mendapat informasi bahwa perusahaan itu milik orang Malaysia. Rupanya kami hanya diantar sampai tepi Sungai Rungau, dan untuk lanjut ke Terawan kita harus menyeberang emnggunakan kapal. Untunglah waktu itu sopir kami menelpon salah seorang pemilik kapal yang langsung menjemput kami. Pemilik kapal itulah yang kemudian mengantar kami ke kediaman kepala desa. Saya pandangi jam tangan saya sewaktu tiba di Rumah Kepala desa. Jam 21.30 WIB.

Pak Asmirin (kepala Desa) tinggal di Rumah Panggung panjang berisi beberapa keluarga. Mirip rumah betang namun dia sendiri tidak menyebutnya rumah betang. Hanya rumah biasa saja katanya.

Hari hari di desa terawan adalah hari-hari yang menyenangkan, meskipun dengan beban pikiran yang menumpuk akibat simpang-siurnya instruksi kantor kepada saya. Survey berjalan lancar meskipun dengan medan yang cukup berat, dan penggunaan waktu yang harus seefektif mungkin. Desa terawan membawahi 9 RT. Sebagian ada di Kampung (RT 1, RT 2, dan RT 3) dan sebagian lagi berada di komplek perkebunan (RT 4 s/d 9). Kebetulan kepala desa tinggal di RT 1 yang terletak di kampung. Berhubung tidak ada penginapan di sekitar desa, jadilah saya menginap di rumah kepala desan. Perbedaan yang sungguh mencolok antara kampung dan kompleks perkebunan adalah: pemukiman yang berada di Kompleks perkebunan bisa mengakses listrik selama 24 jam sedangkan yang terletak di kampung hanya bisa mengakses listrik dari jam 5 sore sampai jam 11 malam. Wow, alangkah indahnya negeri ini.

Saya coba tanyakan kepada kepala desa, alasan apa yang memuat PLN memperlakukan diskriminasi terhadap kampung dan kompleks? Jawabanya membuat saya terkejut. Ini listrik memang bukan dari PLN mas, tapi dari perusahaan. Mereka pakai genset (generator set). Wow, sudah lebih dari 50 tahun kita merdeka, bahkan jakarta sudah siap membangun MRT untuk transportasi massal, tapi disini listrik dari pemerintah belum masuk. Alangkah hebatnya negeri ini kawan.

Untuk keperluan MCK (mandi, cuci, kakus), sungai rungau yang terletak di belakang kampung menjadi andalan warga Terawan. Tiap sore saya mandi disitu (saya memang terbiasa mandi sekali sehari jika sedang dinas lapangan). Yah, air sungai itu jauh dari kata bening, airnya keruh. Saya tidak habis pikir bagaimana  mungkin warga mengandalkan keperluannya akan air pada sungai itu. Saya tanyakan hal itu kepada Kepala Desa. Beliau menjawab : “mas, sebelum tahun 1996, sungai itu bersih, meskipun untuk dibilang jernih juga tidak terlalu jernih. Mas tau, tanah kita adalah tanah gambut jadi jangan disamakan dengan di Jawa. Tapi apa yang mas bilang itu benar, dulu kita berani minum air dari sungai itu mentah mentah-mentah. Sekarang mana berani, buat mandipun kadang gatal kalau tidak terbiasa. Itu semenjak perusahaan sawit masuk, pencemaran sungai semakin tidak terkontrol”. Saya tanya lagi: Wow, artinya masyarakat banyak mendapat  masalah dengan datangnya perkebunan pak?? Dijawabya: “ya jelaslah, dulu kita cari binatang buruan untuk makanpun gampang, saya sering pulang bawa binatang untuk dimasak. Sekarang kita mau berburu dimana? Di ladang sawit”?

-Pandu Yuhsina Adaba-

Iklan