Mampang Prapatan. 10 Maret 2011. (23.46 WIB)

Siang itu seusai shalat dzuhur di musholla kantorku yang terletak di lantai 11. Dari jendela kaca aku melihat ke bawah. Ada sebuah ruas jalan 4 jalur dengan jalan tol di tengahnya. Semula hanya iseng saja sampai kutemui sebuah pemandangan yang menurutku ganjil dan belum pernah kulihat ketika aku masih tinggal di desa. Seorang lelaki menyapu jalan tol di bawah terik matahari. Mungkin dengan cara itulah dia mencari penghasilan untuk menyambung hidup.

Pikiraanku mulai tergelitik. Sebegitu kuatkah lelaki itu hingga memilih bekerja menyapu jalan tol yang panjang dan panas itu? Begitu beraninya dia melawan resiko tertabrak mobil dengan kecepatan tinggi. Adakah asuransi untuknya? Berapa ganjinya? Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dalam benakku. Menggodaku untuk berimajinasi lebih jauh. Namun iimajinasi itu segera berakhir ketika aku sadar bahwa banyak pekerjaan yang mesti aku selesaikan sehingga aku mesti beranjak kembali menatap layar komputer di meja kerjaku.

Dan hari cepat berlalu ketika aku sadar sore waktu jam kantor telah usai. Teman-temanku segera pulang. Seperti biasa, aku memilih untuk nongkrong dulu di Lobi sambil menikmati rokok. Ruang kerja ber AC membatasi intensitasku menghisap asap tembakau itu. Memang kebiasaanku untuk tidak langsung pulang. Aku lebih suka pulang malam ketika kemacetan telah berkurang sehingga konsumsi BBM motorku tidak membuat isi dompetku terkuras. Apalagi ada isu bahwa harga BBM akan segera naik. Tentu aku akan pusing karena motorku selalu minta BBM agar dia mau berjalan.

Sore itu basah dan masih menyisakan gerimis setelah dihuyur hujan sekitar 2 jam. Aku senang dengan gerimis karena udara Jakarta menjadi tidak terlalu panas. Seketika ingatanku kembali kepada lelaki penyapu jalan tol siang tadi. Aapakah dia kehujanan? Sepenglihatanku dia tidak membawa payung. Apakah dia mendapat tempat berteduh? Lagi-lagi pertanyaan-pertanyaan itu kembali mengusikku. Membuatku gelisah. Aku putuskan untuk menyulut batang rokok terakhirku untuk mengurangi gelisah itu.  Ketika rokok itu habis, aku segera beranjak ke parkiran. Aku ingin segera pulang ke kost. Sebuah ruang kotak sempit yang menjadi tempat berteduhku di kota ini.

Hari sudah gelap ketika aku keluar dari kompleks kantor menuju ruas “jalan tikus” favoritku dalam menghindari jalan utama yang tentunya macet parah. Jalan-jalan sempit itu memberiku “diskon waktu” untuk bisa lebih cepat sampai dan lebih irit BBM. Dan jalan sempit itu memberiku pemandangan akan keras dan kumuhnya hidup di kota yang mendapat predikat metropolitan ini.

Kudengar adzan isya mulai berkumandang. Rupanya sudah malam. Sebelum memasuki kampung tempat kostku, aku teringat bahwa rokokku habis. Tentu sangat membosankan di kost tanpa rokok. Harus mencari stok batang tembakau untuk menyambung nafas dan menemani insomnia malam ini. Kebetulan ada sebuah lapak kecil yang kulewati tampak berjualan rokok. Lapak itu basah terguyur hujan siang tadi, dan sampai saat inipun masih gerimis kecil. Aku turun dari motor dan aku lihat seorang nenek tua tidur di dalam lapak itu. Dia menunggui dagangannya, dan aku mesti menganggu tidur nyenyaknya untuk mendapatkan rokok.

Di kamar kost aku menatap langit-langit sambil teringat si lelaki penyapu jalan tol dan si nenek tua penjual rokok di lapak kecil yang basah itu. Sedang apa mereka malam ini?? Termangu dan gelisah tanpa tau apa yang bisa aku perbuat…   

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s