Obat Yang Manis belum Tentu Manjur

Salah diagnosa dari sebuah penyakit yang menimpa tubuh seseorang bisa mengakibatkan pengobatannya salah. Pengobatan yang salah bisa membahayakan nyawa orang sakit tersebut. Jadi Salah diagnosa dalam menentukan penyakit seseorang dapat membahayakan nyawa orang yang sakit tersebut. Secara sederhana itu menjadi salah satu silogisme yang menyangkut dunia kedokteran/pengobatan. Lantas bagaimana kalau yang sakit adalah masyarakat? Apakah silogisme itu juga berlaku untuk proses diagnosa dan pengobatannya?

Baiklah, mari kita sedikit melompat dengan membicarakan carbon tradding. Istilah itu sedang cukup populer dibicarakan di Indonesia, namun banyak juga yang belum mengerti apa artinya. Bermula dari kekhawatiran pemanasan golbal (global warming) dan kerusakan lingkungan akibat polusi yang diakibatkan proses industri, maka banyak orang berusaha mencari solusi. Menurut mereka, industri mau tak mau harus terus berjalan, namun kelestarian lingkungan harus terus dijaga. Paradoks? Atau keren? Silahkan menilai.

Tahun 1997, lahirlah protocol kyoto yang secara sederhana dapat diartikan sebagai “ persetujuan internasional mengenai pemanasan global. Negara-negara yang meratifikasi protokol ini berkomitmen untuk mengurangi emisi/pengeluaran karbon dioksida dan lima gas rumah kaca lainnya[1]. Dalam arti lain, negara-negara Industri besar membayar kompensasi kepada negara yang memiliki hutan luas karena dari hutan hanya hutanlah yang bisa menyerap CO2. [2]

Sebuah perusahaan/industri akan ditetapkan batas maksimal dimana dia diijinkan menghasilkan karbon dioksida (CO2). Apabila dia ingin menambah kuota produksi yang berarti juga harus menambah jumlah CO2 yang dihasilkan, dia harus mendapatkan/membeli dari kelebihan yang dimiliki oleh perusahaan/pihak lain. kalimat ini mungkin masih terlalu rumit untuk dipahami sehingga ada baiknya untuk menjelaskan lewat ilustrasi :[3]

Kasus Pertama: “Seandainya anda memiliki 2 perusahaan, A dan B. Masing-masing mengeluarkan emisi karbondioksida 100.000 ton tiap tahun. Pemerintah ingin perusahaan-perusahaan menurunkan emisinya hingga 5 persen. Masing-masing perusahaan memiliki hak atau diperbolehkan untuk mengemisi 95,000 ton tahun ini. Setiap perusahaan harus mengurangi emisi 5000 ton atau membeli hak mengemisi sebesar 5000 ton dari perusahan / orang lain”.

Kasus Kedua: “Seandainya 2 perusahaan yang sama, A dan B, masing-masing mengemisi 100,000 ton karbondioksida per tahun. Lagi-lagi, pemerintah ingin agar mereka mengurangi emisi hingga 5 persen, jadi masing-masing perusahaan dibolehkan membuang karbondioksida sebesar 95,000 ton.Tetapi sekarang, pemerintah mengatakan pada masing-masing perusahaan bahwa jika mereka tidak ingin mengurangi emisinya 5000 ton pertahun, mereka memiliki pilihan lain. Mereka dapat melakukan investasi di luar negeri pada proyek-proyek yang dapat mereduksi karbon hingga 5000 ton atau hingga 5000 ton”. 

Ada yang janggal pada carbon tradding. Negara-negara maju memilih untuk memberikan kompensisai kepada negara berkembang yang memiliki hutan agar menjaga hutannya. Padahal untuk kasus Indonesia, kebanyakan industri berjalan dengan investasi modal asing dari negara-negara maju.[4]  Artinya, ada ketidak konsistenan dari  negara-negara industri maju itu dalam hal mengurangi emisi karbon. Mengapa itu bisa terjadi? Tentu modal harus tetap diputar agar tidak terjadi defisit perusahaan. Mau tak mau, investasi baru harus terus digelontorkan oleh perusahaan.

Di sisi lain, dengan adanya carbon tradding, akan lebih menutup kemungkinan Indonesia untuk mengeksplorasi dan mengeksploitasi kekayaan alam di wilayahnya sendiri. Padahal untuk mengejar ketertinggalan terhadap negara-negara industri maju, eksplorasi dan eksploitasi Indonesia atas kekayaan di wilayahnya sendiri tentu diperlukan. Lalu apakah kompensasi dari penjagaan atas hutan yang akan menyerap karbon itu sebanding dengan pendapatan atas eksploitasi kekayaan alam kita?

( Pandu Yuhsina Adaba ) 

 

 


[1] Yang termasuk jenis-jenis gas berpotensi menyebabkan pemanasan global ialah:  karbon dioksida, metan, nitrous oxide, sulfur heksafluorida, HFC, dan PFC.

[4] Sumber: http://koranandalas.com/?p=77 diakses 10 November 2012.

Iklan